Indonesia Darurat Keadilan!

Indonesia sedang diuji lagi dengan krisis, semoga kita selamat dan mampu bertahan.

Hari-hari ini Indonesia gelap menunjukkan bahwa ia nyata ada, dan tidak terbantahkan. Kegelapan dan kesumpekan, berdesakan mencari air oase keadilan, dan meledak dalam bentuk protes masa yang menjadi amuk.

Mengapa ini terjadi? Mengapa gugurnya Affan Kurniawan memicu protes massal kepada polisi dan DPR? Karena Affan adalah gambaran rakyat kecil yang membanting tulang, mengais rezeki halal untuk sekedar mencukupi kehidupan sederhana keluarganya, dan dia dilindas oleh pongah barakuda kekuasaan. Sudah terlalu lama kekuasaan itu hadir beringas mempertontonkan kekuasaannya tanpa empati.

Hanya rakyat kecil, atau pejabat yang tidak mendukung kuasa, yang masuk penjara. Selebihnya, oligarki korup terus mengeruk dan merusak lingkungan, menambang batubara, nikel, memanen sawit dari hasil menggusur tanah turun-temurun rakyat, dengan bekingan senjata aparat. Rakyat terus kalah berhadapan dengan kriminalisasi dan intimidasi jika melawan perusahaan. Padahal konstitusi mengamanatkan kekayaan alam Indonesia dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Faktanya, rakyat hanya dimanfaatkan suaranya ketika berebut kuasa. Pemilu bukan lagi pesta rakyat (demokrasi), pemilu adalah pesta kuasa cuan (DUITokrasi). Dimana strategi menang ditentukan dengan kekuatan uang dan cara curang.

Padahal, dari pemilu yang kotor tidak akan hadir pemimpin yang bersih. Dari pemilu yang kotor hanya akan hadir para calon koruptor.

Hasil pemilu yang tidak jujur dan tidak adil adalah para pemimpin yang tidak berfikir dan bertindak untuk rakyat, tetapi lagi-lagi hanya untuk menimati kuasa dan menghamba pada kelancaran usaha. Setelah pemilu, rakyat dibiarkan lagi dalam kemiskinan, kesakitan, pengangguran, seta beras yang harganya terus naik. Pada sisi lain, pajak rakyat dinaikkan ratusan hingga ribuan persen.

Rakyat kebanyakan kena pajak berlebihan. Sedangkan penggelapan pajak oligarki tambang bebas melenggang.

Indonesia mengalami gagal ginjal pemilu. Seharusnya, pemilu lima tahunan menyaring darah politisi kotor, dan menggantinya dengan darah politisi bersih, agar tubuh demokrasi semakin sehat. Yang terjadi justru sebaliknya, racun kolesterol koruptor telah merusak sistem pemilu kita. Oligarki korup dengan kuasa uangnya membajak pilihan rakyat, menentukan siapa jadi presiden, gubernur, bupati, walikota bahkan kepala desa. Menentukan pula siapa menjadi anggota dewan, menteri dan petinggi di jajaran kepolisian, kejaksaan, tentara, bahkan hingga hakim di mahkamah peradilan.

Darah kotor itu mengalir masuk ke jantung dan otak kekuasaan. Mengakibatkan hukum, keadilan, dan jargon antikorupsi akhirnya hanya dipidatokan. Janji dukungan UU Aset Recovery diikrarkan bertahun-tahun, namun terus ingkar hingga ini. Padahal undang-undang pelumpuhan KPK, Cipta Kerja, Minerba, IKN, perubahan UU TNI, diselesaikan secepat-kilat di ruang-ruang gelap. Para koruptor bukan hanya diberikan jabatan strategis di pusat kekuasaan, bahkan diberi bintang tanda kehormatan.

Kala penjahat menjadi pejabat, hukum dijadikan alat untuk menindas dan melindas keadilan. Kala itulah cahaya terang mulai hilang dari Indonesia, berganti dengan kegelapan. Kegelapan yang menghadirkan keputusasaan dan kemarahan, melahirkan amuk.

Jika para pemimpin kita tidak cepat sadar dan istighfar, maka Indonesia akan melalui jalur yang lebih terjal dan berbahaya. Hentikan kemunafikan, segera hadirkan nurani, jangan lagi permainkan hukum dan keadilan. Karena jika hukum dan keadilan tidak dihadirkan oleh negara, maka masa punya cara dan gayanya sendiri menghadirkan keadilan di jalanan.

Sebelum terlambat, segera ambil langkah darurat, hadirkan oase air keadilan dari tanah Ibu pertiwi. Reformasi Polri, Reformasi DPR dan sistem pemilu kita, penjarakan koruptor, dengan mengembalikan akal sehat dan hati nurani dalam bernegara. Hormati hukum dan sejahterakan rakyat sebagaimana amanat konstitusi, maka Indonesia akan selamat. Semoga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan Terbaru