BAPAK PRESIDEN, ANDA KELIRU

BAPAK PRESIDEN, ANDA KELIRU
Denny Indrayana
Advokat Indonesia dan Australia

Selamat Kamis pagi Pak Presiden Prabowo. Ini surat saya ke-7, tepat satu minggu. Saya duga Bapak masih belum membacanya. Pagar Istana terlalu tinggi. Dinding istana terlalu tebal.

Tapi, saya memilih tidak menyerah. Saya memilih untuk terus menulis, apa adanya.

Kemarin saya beruntung bertemu dengan Bapak Amien Rais. Kami berbagi kegelisahan persoalan bangsa. Kami sepakat, rezim sering tumbang karena tiga hal: krisis ekonomi, skandal publik, dan skandal pribadi.

Mengutip hadits Rasulullah, Pak Amien menyampaikan: diam, melawan hanya dengan hati, adalah selemah-lemah iman. Kami memilih minimal melawan dengan lisan dan tulisan. Sebagai kelompok pendidik, wajib kami memberikan literasi politik, tentu tetap dengan dasar logika, tanpa provokasi.

Apalagi, kelihatannya, Presiden sedang terisolasi dari informasi yang senyatanya. Banyak tandanya. Akurasi orasi Bapak, makin jauh dari fakta dan realita.

Narasi satu penggilingan padi yang bisa untung Rp 2 triliun menunjukkan parahnya akurasi data di seputaran Bapak Presiden. Laporan siapakah itu, yang menyebabkan Presiden tidak punya filter untuk mencernanya secara logika?

Apapun, kami memilih menjadi kelompok pengingat. Menyampaikan masukan dengan hati bersih, tanpa pamrih. Dinding telinga kebal istana perlu ditembus dengan suntikan kesadaran, dengan informasi kebenaran. Kami izin berkata dengan lantang: Bapak Presiden, Anda keliru.

Bukan tanpa bahaya. Setiap masukan kritis berisiko dikelompokkan sebagai londo ireng, antek asing ataupun aseng. Lalu berisiko dibeli, dikriminalisasi, atau bahkan dihabisi. Namun, saat kedzaliman telanjang di depan mata, maka diam bukan pilihan. Kebenaran harus nyaring diteriakkan. Satu ayat harus disampaikan, apapun risikonya.

Bapak Presiden, kami bukan londo ireng, sang pengkhianat. Meskipun tidak masuk barisan relawan, kami bukan lawan. Kami mendukung Bapak, dalam cinta untuk Indonesia. Caranya pasti jauh berbeda. Tidak jarang berkebalikan.

Londo ireng berbusa-busa mengumbar pujian. Kami mungkin memang berisik menyampaikan kritik. Londo ireng berkata manis. Kami memang mengingatkan dengan sapa pahit.

Tapi jangan salah baca peta, Bapak Presiden. Pengkhianat tidak jarang adalah orang yang berada paling dekat. Yang dalam diam menyusun siasat, agar Bapak makin tersesat dan semakin jauh dari rakyat.

Sudah saya katakan, londo ireng itu adalah para koruptor. Wajahnya beraneka rupa, tapi tujuannya sama. Mereka berpesta pora mengeruk uang negara, selagi dalam kesempatan berkuasa, masuk dalam lingkaran Istana.

Maka, Bapak Presiden, jangan salah pilih orang dilingkaran utama kuasa. Akibatnya bencana. Salah memilih kepala, Makan Bergizi menjadi korupsi. Salah memilih panglima satgas antimafia, dugaan korupsi Jampidsus mengguncang Indonesia. Salah memilih Wakil Presiden Raka yang tidak punya wibawa dan didukung pelanggaran etika, maka Indonesia bersiap menghadapi mala petaka.

Bapak Prabowo, kesempatan masih ada. Segera ubah arah negara. Berantas korupsi dari akar-akarnya. Salah satunya yang berlindung di dalam pagar-pagar Istana. Mereka itulah londo ireng yang sesungguhnya. Salah satu caranya: kembalikan lagi kekuatan KPK.

Jangan lagi keliru Bapak Presiden. Keliru membaca peta, mana kawan, mana lawan. Fatal akibatnya.

Sampai berjumpa dengan surat saya berikutnya.

3 Responses

  1. Memang seharusx presiden buka mata. Buka hati. Bangsa ini sangat jauh sekali tertinggal dan terpuruk. Diam kita hancur hrs lwn dengan hati dingin. i

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tulisan Terbaru