MAS WAPRES, MUNDURLAH. SYARAT PENDIDIKAN DIUBAH UNTUK GIBRAN?
Mas Wapres Gibran, apa kabar? Selamat Jumat pagi. Izinkan saya melanjutkan surat kami yang apa adanya.
Mas Wapres Gibran, apa kabar? Selamat Jumat pagi. Izinkan saya melanjutkan surat kami yang apa adanya.
Mas Wapres Gibran Rakabuming Raka, salam kenal, selamat Kamis Pagi. Beberapa hari ini saya berkirim surat kepada Presiden Prabowo Subianto. Kali ini izinkan saya menyampaikan surat terbuka ini kepada Mas Wapres.
Bapak Presiden Prabowo, selamat Senin pagi. Semangat Pak! Izinkan saya kembali bersurat apa adanya.
Bapak Presiden Prabowo, selamat Sabtu pagi. Izinkan saya kembali bersurat apa adanya. Surat saya sebelumnya, “Memecat Gibran”, mendapatkan tanggapan luas. Ada yang setuju, ada yang gusar, ada pula yang buru-buru nyinyir-mencibir. Begitulah politik: yang tersinggung sering lebih cepat bereaksi daripada yang sempat merenung. Karena itu, saya berutang penjelasan: mengapa Gibran perlu dipecat, dan bagaimana pemecatan itu dilakukan.
Bapak Presiden, selamat jumat pagi. Akan sholat jumat dimana hari ini, Pak?
Selamat Kamis pagi Pak Presiden Prabowo. Ini surat saya ke-7, tepat satu minggu. Saya duga Bapak masih belum membacanya. Pagar Istana terlalu tinggi. Dinding istana terlalu tebal.
Selamat Rabu pagi, Bapak Presiden. Sejak Jumat lalu, ini surat saya yang keenam. Saya akan terus menulis, menyampaikan masukan apa adanya. Semoga suatu hari Bapak sempat membacanya.
Bapak Presiden Prabowo, selamat Selasa pagi. Surat kali ini tetap apa adanya, tetapi lebih singkat dan langsung. To the point. Saya ingin pesannya tegas, jelas, dan tidak memberi ruang bagi salah tafsir.
Presiden Prabowo, selamat Senin pagi. Surat ini masih apa adanya, dan sayangnya masih bicara akar masalah bangsa ini: Korupsi!