MEMECAT GIBRAN (LAGI)

Bapak Presiden Prabowo, selamat Sabtu pagi. Izinkan saya kembali bersurat apa adanya. Surat saya sebelumnya, “Memecat Gibran”, mendapatkan tanggapan luas. Ada yang setuju, ada yang gusar, ada pula yang buru-buru nyinyir-mencibir. Begitulah politik: yang tersinggung sering lebih cepat bereaksi daripada yang sempat merenung. Karena itu, saya berutang penjelasan: mengapa Gibran perlu dipecat, dan bagaimana pemecatan itu dilakukan.